Happy Beauty Readers !!
I’m
back guys, kali ini aku ingin membahas tentang Antioksidan. Pasti kata Antioksidan
cukup familiar ketika berhubungan dengan perawatan kulit. Sebelum membahas
lebih lanjut aku mau nanya dulu nih kalian tau ga apasih Antioksidan itu? Guna
Antioksidan bagi tubuh ? dan apa yang terjadi jika kita mengalami defisiensi
atau kekurangan Antioksidan pada tubuh? Nah kalau kalian pengen tau lebih
banyak tentang Antioksidan, yuk kita bahas lebih lanjut…
ANTIOKSIDAN
Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang dapat menunda,
memperlambat, dan mencegah proses oksidasi lipid. Dalam arti khusus,
antioksidan adalah zat yang dapat menunda atau mencegah terjadinya reaksi
antioksidasi radikal bebas dalam oksidasi lipid. Sumber-sumber antioksidan
dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu antioksidan sintetik
(antioksidan yang diperoleh dari hasil sintesa reaksi kimia) dan antioksidan
alami (antioksidan hasil ekstraksi bahan alami) (Kochhar dan Rossell, 1990).
Antioksidan merupakan inhibitor yang bekerja menghambat
oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal
bebas tak reaktif yang relatif stabil (Widodo, 1997).
Tubuh Manusia sebenarnya dapat menghasilkan antioksidan tapi
jumlahnya tidak mencukupi untuk menetralkan radikal bebas yang jumlahnya
semakin menumpuk di dalam tubuh. Oleh karena itu, tubuh memerlukan antioksidan
dari luar berupa makanan atau suplemen (Rahardjo dan Hernani, 2005).
Antioksidan
digolongkan ke dalam dua kelompok, yang pertama antioksidan alami, contohnya:
superoksida dismutase (SOD), glutation peroxidase, polifenol, flavonoid, karatenoid
dan vitamin E. Kedua, Antioksidan sintetis antara lain: BHA (butylated
hidroxyanisole) dan BHT (butylate hydroxytoluene). mengkonsumsi antioksidan
dalam jumlah yang memadai dapat menurunkan resiko terkena penyakit yang
bersifat degeneratif, antara lain seperti penyakit kardiovaskular (penyakit
jantung), kanker, aterosklerosis, dan bahkan osteoporosis. Konsumsi makanan
yang banyak mengandung antioksidan dapat meningkatkan status imunologi dan
menghambat timbulnya penyakit degeneratif akibat penuaan. Pada dasarnya
konsumsi antioksidan secara optimal dibutuhkan oleh semua umur (Winarsi,2007).
Menurut hasil riset kesehatan dasar yang
dilakukan oleh Badan Litbangkes (2007): Antioksidan sangat diperlukan oleh
tubuh untuk mengatasi dan mencegah stres oksidatif. Berbagai bahan alam asli
Indonesia banyak mengandung antioksidan dengan berbagai bahan aktifnya.
Penggunaan bahan alam asli Indonesia sebagai antioksidan diperlukan untuk
meningkatkan kualitas kesehatan. Berbagai obat-obatan sintetis yang mengandung
antioksidan antara lain N-Asetil Sistein (NAC) dan vitamin C. Tujuan dari
penulisan ini adalah membahas peran antioksidan sebagai konsumsi yang penting
bagi kesehatan.
Berdasarkan
mekanisme kerjanya, antioksidan dibagi menjadi 3, yaitu:
Antioksidan
primer bekerja dengan cara mencegah pembentukan senyawa radikal bebas yang
telah terbentuk menjadi molekul yang kurang aktif. Contoh antioksidan primer
adalah glutation peroksidase, dan enzim superoksida dismutase (SOD) yang
berfungsi sebagai pelindung hancurnya sel-sel dalam tubuh karena radikal bebas
(Winarsi, 2007).
Antioksidan
sekunder merupakan senyawa yang bekerja dengan cara memotong reaksi oksidasi
berantaidari radikal bebas. Akibatnya, radikal bebas tidak bereaksi dengan
komponen seluler (Winarsi, 2007). Contohnya adalah vitamin E, vitamin C,
flavonoid, dan betakaroten yang dapat diperoleh dari buah-buahan (Soewoto,
2001).
Antioksidan
tersier merupakan senyawa yang memperbaiki kerusakan sel-sel dan jaringan yang disebabkan
radikal bebas. Contohnya, enzim metionin sulfoksi dan reduktase untuk
memperbaiki DNA pada inti sel. Antioksidan digunakan untuk melindungi komponen
makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama lemak
dan minyak (Soewoto, 2001).
Antioksidan
merupakan suatu senyawa yang dapat menyerap atau menetralisir radikal bebas
sehingga mampu mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler,
karsinogenesis, dan penyakit lainnya. Senyawa antioksidan merupakan substansi
yang diperlukan tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan
yang ditimbulkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein, dan lemak.
Senyawa ini memiliki struktur molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada
molekul radikal bebas tanpa terganggu sama sekali fungsinya dan dapat memutus
reaksi berantai dari radikal bebas (Murray, 2009).
Radikal
bebas dapat diartikan sebagai salah satu produk reaksi kimia dalam tubuh yang
sangat reaktif dan mengandung elektron tak berpasangan sehingga sebagian besar
bersifat tidak stabil (Widodo, 1997). Radikal bebas mencari reaksi-reaksi agar
dapat memperoleh kembali elektron berpasangannya. Dalam rangka mendapatkan
stabilitas kimia, radikal bebas tidak dapat mempertahankan bentuk asli dalam
waktu lama dan segera berikatan dengan bahan sekitarnya. Radikal bebas akan
menyerang molekul stabil yang terdekat dan mengambil elektron, zat yang
terambil elektronnya akan menjadi radikal bebas juga sehingga akan memulai
suatu reaksi berantai yang akhirnya akan terjadi kerusakan pada sel tersebut
(Droge, 2002).
Menurut
Kumalaningsih (2006), radikal bebas dapat masuk dan terbentuk didalam tubuh
melalui pernafasan, lingkungan yang tidak sehat dan makanan berlemak.
Sumber
radikal bebas ada dua yaitu sumber eksogen dan sumber endogen. Sumber eksogen
biasanya berasal dari luar tubuh seperti polutan udara, radiasi, zat-zat kimia
karsinogenik, asap rokok, bacteri, virus dan efek obat (obat anastesi dan
pestisida). Sumber endogen yaitu radikal bebas yang merupakan hasil metabolik
normal dalam tubuh manusia seperti proses oksidasi makanan, proses oksidasi
xantin dan olah raga yang berlebihan (Fessenden, 1986).
Akibat
begitu besarnya pengaruh radikal bebas terhadap kesehatan manusia makatubuh
memerlukan suatu asupan yang mengandung suatu senyawa yaitu antioksidan yang
mampu menangkap dan menetralisir radikal bebas tersebut sehingga reaksi–reaksi
lanjutan yang menyebabkan terjadinya stres oksidatif dapat berhenti dan
kerusakan sel dapat dihindari atau induksi suatu penyakit dapat dihentikan
(Kikuzaki, dkk.., 2002).
DAFTAR PUSTAKA
Badan
Litbangkes Depkes RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007. Jakarta; 2008: 275-8.
Droge
W. 2002. Free Radicals in the Physiological Control of Cell Function. NCBI.
82(1):47-95.
Fessenden
and Fessenden. 1986. Kimia Organik, edisi-3 (A.H. Pudjatmaka).
Erlangga.Jakarta.
Hernani
dan Raharjo, M., 2005, Tanaman Berkhasiat Antioksidan, Cetakan I, Penebar
Swadaya, Jakarta, Hal 3, 9, 11, 16-17.
Hery
Winarsi. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Kanisius. Hal.
189-90
Kumalaningsih,
S., 2006. Antioksidan Alami. Trubus Angrisarana. Surabaya
Kikuzaki,
H., Hisamoto, M., Hirose, K., Akiyama, K.and Taniguchi H. 2002. Antioxidants
Properties
of Ferulic Acid and Its Related Compound. J. Agric. Food Chem. 50(8) : 2161-68.
Japan
Murray
R. K., Granner D.K., Rodwell V.W., 2009. Biokimia Harper, (Andri
Hartono)..Edisi 27.Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
Soewoto,
H. 2001. Antioksidan Eksogen Lini Pertahanan Kedua dalam Menanggulangi Peran
Radikal Bebas. dalam : Materi Kursus Penyegar Radikal Bebas dan Antioksidan
dalam Kesehatan : Dasar, Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. Jakarta :
Fakultas Kedokteran UI
Thompson,
J.K. 2000. Body Image, Eating Disorder, and Obesity an Integrative Guide for
Asesment and Treatment. Washington : American Psychological Association.
Kochar,
S.P. dan B. Rossell. 1990. Detection estimation and evaluation of antioxidants
in food system. Di dalam : B.J.F. Hudson, editor. Food Antioxidants. Elvisier
Applied Science. London.
Widodo,
M.A. 1997. Xenobiotik dan Radikal Bebas pada Patogenesa Penyakit Paru. Di dalam
Soeatmaji J.W. et. al. Proceedings Simposium Radikal Bebas dan Patogenesa
Penyakit. FK Unibraw. Malang


